quote-2

Waktu dikontrak untuk album solo tahun ’90, gue ngeband dulu. Pada dasarnya dari SMA juga gue senangnya ngeband, bukan nyanyi solo. Saat gue bikin album solo terus tidak terlalu sukses, produser eksekutifnya menawarkan , ‘Elo cari band atau bikin band!’ Saat itu gue punya Next Band, dan gue push untuk bikin album. Ternyata susah banget. Tiba-tiba gue menelepon Baron, dan dia ngomong, ‘Gue mau bikin band, Mand. Vokalisnya belum ada.’ Itu anak-anak Gigi yang pertama: Baron, Ronald, Thomas, Budjana. Gayung langsung bersambut, dan gue gabung di Gigi. Selain karena gue ingin ngeband,
soul gue cocoknya di band, kebetulan semuanya kenal.

quote-1

Tubagus Arman Maulana lahir di Bandung pada 4 April 1971, dengan keluarga yang berjiwa seni. Kakeknya sempat menjabat sebagai Ketua Kebudayaan di zaman Hindia Belanda, ayahnya adalah pensiunan ABRI yang sering menjadi pemeran utama di pertunjukan tari, ibunya adalah guru nyanyi, dan kelima kakaknya tertarik kepada seni rupa, teater dan tarik suara. Saat masih SD, Armand diajak kakak-kakaknya ikut kegiatan di perkumpulan Teater Besar Sangsaka, dan bahkan ikut tampil di pementasan. Itulah perkenalan Armand dengan panggung, dan sejak itu ketagihan.

Apresiasi Armand terhadap musik juga berasal dari kakaknya, yang memperkenalkannya ke band-band rock seperti Genesis, Yes, Rush, ELP dan Alan Parsons Project. Saat duduk di bangku SMP, Armand sering menyempatkan diri mampir ke toko kaset pada jam pulang sekolah untuk mendengar kaset-kaset baru. Karena sangat menggemari Genesis, ia juga mendaftar menjadi anggota klub penggemar. Saat Cockpit, band asal Jakarta yang memainkan lagu-lagu Genesis, tampil di Bandung, Armand menonton di barisan terdepan.

Saat di SMA, barulah Armand mengawali perjalanannya untuk menjadi lebih dari penikmat musik. Ia diterima di grup vokal SMA 5, yang dikenal terbaik se-Bandung, dan sering diminta pelatihnya untuk menjadi vokalis utama. Lalu ia punya ide untuk mendirikan band bersama para musisi pengiring grup vokal tersebut, dan nama mereka menjadi cukup terkenal sehingga diundang ikut kompetisi Festival Band Pelajar di Yogyakarta dengan saingan band-band se-Jawa dan Bali. Band SMA 5 itu terpilih sebagai juara umum, dengan Armand sebagai vokalis terbaik.

Juri festival tersebut adalah Bens Leo, wartawan musik yang ketika itu bekerja di majalah Gadis dan sering mengadakan acara musik. Karena terkesan dengan band SMA 5, Bens mengundang mereka untuk ikut memeriahkan acara ulang tahun majalah tersebut di Jakarta. Dari sana, Armand dan Bens menjadi lebih akrab. Ketika Armand pindah ke Jakarta untuk kuliah, Bens mengajaknya tampil di Festival Lagu Perjuangan Tingkat Nasional. Dalam kompetisi itu, Armand adalah satu-satunya pendatang baru di antara nama-nama familier seperti Yana Julio, Lita Zein, Titi DJ, Ricky Johannes, Ronny Sianturi, Irma June dan Oppie Andaresta, dengan aransemen musik yang ditata oleh Erwin Gutawa. Dengan diminta menyanyikan lagu Mohammad Agil yang berjudul “Ekstase”, Armand berhasil keluar sebagai juara berkat penampilannya yang atraktif, di mana tiang mikrofon dipergunakan sebagai aksesoris.

Baru selesai tampil di acara tersebut, Armand langsung dihampiri Raidy Noor, yang mengajaknya menjadi vokalis di Next Band. Karena grup itu berisi musisi-musisi yang pernah bermain di Cockpit, Armand langsung mengiyakan, dan Next Band segera menjadi band langganan berbagai bar di Jakarta dengan repertoar berisi lagu-lagunya Extreme, Van Halen dan Bryan Adams. Ketika itu Raidy Noor juga sedang menggarap lagu Ronny Sianturi, anggota Trio Libels. Ronny mengajak Armand bergabung dengan grup vokal tersebut untuk menggantikan sementara posisi Edwin Manangsang yang hendak sekolah di Amerika Serikat. Armand diminta bergabung karena Trio Libels harus memenuhi komitmen untuk membuat iklan dan sejumlah episode acara televisi yang berjudul Panggung Libels. Itu menjadi perkenalannya dengan industri musik, dan setelah sembilan bulan membantu Trio Libels, di tahun 1990 Armand merekam album solo berjudul Kau Tetap Milikku dengan bantuan Raidy. Album tersebut dilepas pada tahun 1993, namun sambutan dari publik kurang menggembirakan. Ong Eng Kiat, bos perusahaan rekaman Union Artist yang memproduksi album itu, malah bilang bahwa Armand lebih cocok berada di band, dan Armand pun merasakan hal yang sama.

Seakan-akan takdir ikut terlibat, di saat yang bersamaan Dewa Budjana, Thomas Ramdhan, Ronald Fristianto dan Aria Baron Suprayogi sedang mencari vokalis untuk band baru yang mereka bentuk. Kebetulan Armand sudah duluan kenal mereka masing-masing, dan Budjana juga kenal Nita Tilana, kakak Armand yang duluan terjun ke dunia musik sebagai penyanyi latar untuk Slank dan artis solo. Alhasil, nama Armand diusulkan untuk menjadi vokalis grup baru itu, dan ketika Baron mengontak Armand untuk mengajaknya bergabung, Armand setuju. Di sesi latihan pertama dengan Armand sebagai vokalis, kecocokan mereka langsung membuahkan tiga lagu, yakni “Kuingin”, “Adakah Yang Tersisa” dan “Angan”. Maka pada 22 Maret 1994, Gigi resmi berdiri, dan album perdana Angan dilepas beberapa bulan kemudian.

Dalam dua dasawarsa sejak dibentuk, Gigi telah mengalami berbagai pasang dan surut, dan menghasilkan lebih dari seratus lagu dengan berbagai warna musik dan menuai berbagai macam reaksi dari masyarakat. Namun salah satu hal yang menjadi konstan di Gigi hingga saat ini adalah Armand Maulana. Ia masih menjadi ujung tombak Gigi, yang masih memukau lewat karismanya, karakter vokalnya yang khas serta aksi panggungnya yang seringkali lebih energetik dibanding vokalis-vokalis yang jauh lebih muda. Armand adalah sosok yang tak pernah diam, yang tetap menjaga kondisi fisik dan mental agar bisa tampil seprima mungkin, serta terus mengikuti perkembangan dunia musik dan berevolusi agar tidak menjadi stagnan. Itulah yang membuat Gigi salah satu band terbaik yang pernah ada di Indonesia, dan bisa bertahan sampai sekarang.

Di luar Gigi, dalam beberapa tahun terakhir Armand Maulana sudah mencoba berkarya lagi sebagai artis solo. Di tahun 2014 ia mengeluarkan single “Seperti Legenda” yang merupakan duet bersama Dewi Gita, pasangan hidupnya sejak sebelum Gigi resmi berdiri. Di tahun 2016, lagu “Hanya Engkau Yang Bisa” yang digarap bersama trio pencipta lagu Lale Ilman Nino menunjukkan sisi Armand yang lebih pop, dan berhasil meraih piala AMI Awards untuk kategori Artis Solo R&B/Soul/Urban Terbaik. Saat ini ditulis, album solonya masih dalam proses penggarapan, namun dapat diyakini bahwa Armand Maulana menjalankannya dengan penuh totalitas sebagaimana yang dilakukannya dengan Gigi.

quote-2

Gue juga nggak kebayang Gigi bisa ada sampai 23 tahun sekarang ini. Kenapa terus gabung di Gigi? Karena ternyata di dalam perjalanannya, gue menemukan partner bermain musik yang cocok luar dalam. Semua orang pasti punya ego, tapi toleransi ego di Gigi itu terjalin cukup baik. Makanya bisa sampai 23 tahun bertahan, walaupun sebenarnya yang namanya ego seniman gede banget. Salah satu resepnya itu adalah kami semua bisa toleransi dalam ego itu. Selain itu, gue masih tetap gabung sama Gigi karena enak, nyaman. Gue merasa nyaman karena apa yang gue mau, apa yang gue inginkan – vibe-nya, soul-nya, tight-nya sebuah band – itu semua gue dapat. Terus semua yang ada di Gigi, dari formasi lama sampai sekarang, semuanya haus akan ilmu musik, haus akan update, haus akan apa yang terjadi di musik sekarang.
Kami keluar di tahun ’90-an tapi tidak stuck saja di situ. Kebetulan semua personel di Gigi itu pikirannya sama, selalu update dengan industri musik
di dunia maupun di Indonesia. Gue merasa nyaman.

quote-1