quote-2

Dulu gue session player dari sebelum tahun ’90 hingga ‘92, jadi nongkrongnya di studio-studio. Di situ ketemu Pay, yang juga di Slank. Nah, dia bikin proyek yang drummer-nya Ronald dan bassisnya Thomas. Dia mengompori pertama: ‘Eh, elo kenapa nggak bikin band saja?’ Kan band gue dulu, Spirit, sudah nggak ada. ‘Gue ada drummer sama bassis nih.’ Akhirnya gue pikir, biar nggak jadi session player terus, ya sudah, gue bikin band itu. Akhirnya jadi Gigi.

quote-1

I Dewa Gede Budjana lahir di Waikabubak, Sumba Barat pada 30 Agustus 1963. Pekerjaan ayahnya sebagai jaksa membuat keluarga Budjana sering pindah tempat tinggal. Ketika orang tuanya bermukim di Surabaya, Budjana memilih untuk tinggal di Klungkung, Bali bersama kakek, nenek dan dua kakaknya yang paling tua.

Poster-poster musisi yang ditempel di dinding kamar kakaknya membuat Budjana tertarik menjadi gitaris. Segitu besarnya keinginan tersebut, sampai ia rela mencuri uang neneknya demi membeli gitar. Untungnya ia tidak dimarahi oleh neneknya, dan Budjana pun mulai belajar bermain gitar.

Sewaktu masih SD di Klungkung dan juga setelah pindah ke Surabaya, Budjana gemar membaca Aktuil dan banyak mendapat referensi musik dari majalah tersebut. Ia bahkan pernah memenangkan kaset Harry Roesli karena berhasil menyelesaikan teka-teki di salah satu edisi majalah itu. Budjana juga gemar menonton musisi-musisi seperti Superkid, SAS, The Rollies dan Bani Adam saat soundcheck sebelum tampil di Gelora Pancasila, yang terletak di belakang rumahnya.

Saat masuk SMP, Budjana semakin percaya diri dengan kemampuannya bermain gitar. Ia mendaftar untuk tampil di acara malam kesenian yang diadakan sekolah, dan setahun kemudian ia membentuk band dengan konsep unik, yakni menggabungkan instrumen modern dengan gamelan. Referensi musiknya pun semakin luas, dengan selera yang mencakupi band-band progressive rock seperti Yes, Gentle Giant dan Genesis, serta musisi-musisi jazz kontemporer seperti Pat Metheny dan The Mahavishnu Orchestra. Budjana menyebut John McLauchlin, gitaris The Mahavishnu Orchestra, sebagai sosok yang memberi pencerahan lewat permainannya. Para musisi jazz di Surabaya yang terbiasa memainkan lagu-lagu standar pun dibuat bingung saat Budjana tampil di acara-acara jazz dengan memainkan jazz kontemporer.

Memasuki SMA, Budjana membentuk Squirrel, band pertamanya yang serius. Band instrumental yang membawakan musik kontemporer ini menjuarai kompetisi Yamaha Light Music Festival, dan bahkan rutin tampil dalam acara bulanan Jazz Remaja dengan Squirrel yang ditayangkan TVRI Surabaya. Di band ini pula Budjana mulai mengasah kemampuannya sebagai komponis. Karena belum mampu membeli instrumen sendiri, Budjana disuruh membawa gitar Aria Pro II dari toko milik Joen Sen, seorang tokoh musik ternama di Surabaya yang bersikeras bahwa Budjana harus punya gitar sendiri kalau mau menjadi gitaris profesional. Gitar itu baru lunas lima tahun kemudian.

Setelah lulus SMA di tahun 1983, Budjana memutuskan untuk tidak kuliah dan nekat pindah ke Jakarta untuk menjadi musisi profesional. Ia berpindah-pindah ke rumah kakak, sepupu atau teman yang bersedia menampungnya, sambil mencari siapa pun yang mau mengajaknya bermain musik. Ini suatu hal yang sulit, karena jenis musik jazz yang dipahaminya kurang cocok dengan band-band pop dan rock yang bermain di bar dan kafe sekitar Jakarta. Alhasil, Budjana sempat menganggur selama setahun dan mulai meragukan keputusannya untuk mencoba hidup dari bermain musik.

Pelan-pelan, titik terang mulai ditemukan. Budjana mulai diajak bermain di pub oleh Dicky Prawoto, dan kemudian ikut Gatot Sunyoto di band El Chicome yang tampil di Marco Polo Night Club. Saat sedang berkunjung ke studio rekaman Sound City yang dikelola temannya di Surabaya, Budjana bertemu dengan Fariz RM, yang sudah kenal dengan Budjana sejak Squirrel menjadi band pembuka untuk grupnya Fariz, Transs, di Surabaya. Fariz langsung mengajaknya mengisi gitar pada “Cinta di Balik Noda”, lagu garapan Fariz yang dinyanyikan oleh Meriam Bellina. Ini menjadi pengalaman rekaman profesional pertama bagi Budjana.

Keterlibatan Budjana dalam rekaman garapan Fariz RM itu membuat namanya mulai dikenal dan banyak bermain. Saat sama-sama tampil dalam acara Jazz Goes to Campus, Budjana berkenalan dengan Gilang Ramadhan yang bermain di acara itu bersama Indra Lesmana. Karena berteman dengan Indra juga, Budjana ikut mendaftar di kursus musik yang diselenggarakan oleh Jack Lesmana, ayah Indra. Sebenarnya Budjana tak sanggup membayar biaya les, tapi karena ingin belajar dengan serius, maka Jack memperbolehkannya kursus secara gratis.

Keterlibatan Budjana dalam rekaman garapan Fariz RM itu membuat namanya mulai dikenal dan banyak bermain. Saat sama-sama tampil dalam acara Jazz Goes to Campus, Budjana berkenalan dengan Gilang Ramadhan yang bermain di acara itu bersama Indra Lesmana. Karena berteman dengan Indra juga, Budjana ikut mendaftar di kursus musik yang diselenggarakan oleh Jack Lesmana, ayah Indra. Sebenarnya Budjana tak sanggup membayar biaya les, tapi karena ingin belajar dengan serius, maka Jack memperbolehkannya kursus secara gratis.Selanjutnya, Budjana bermain dengan berbagai musisi, di antaranya Exit Band yang juga beranggotakan Indra Lesmana dan Gilang Ramadhan, serta Jimmy Manoppo Band yang tampil secara reguler di acara Telerama yang ditayangkan TVRI. Pengalamannya bermain di bar dan hotel membuat Budjana harus bisa memainkan musik pop, dan dengan bekal itu Budjana juga mulai banyak mendapat pekerjaan sebagai session player yang diminta mengisi soundtrack film Catatan Si Boy II dan album Seberkas Sinar oleh Nike Ardilla. Di tahun 1988, Budjana tergabung di Spirit dan menciptakan dua lagu yang terdapat di album perdana grup tersebut. Di saat bersamaan, Hydro – grup Budjana yang rutin bermain di bar Mandarin Hotel – diminta menghibur putri kesultanan Brunei dalam perjalanannya keliling dunia, dan ini membuat Budjana bisa tampil di Eropa, Afrika dan Amerika.

Budjana merekam satu album lagi bersama Spirit sebelum mengundurkan diri di tahun 1993 akibat kesibukannya sebagai session player untuk panggung dan studio. Ia sempat diminta bermain untuk Twilite Orchestra dan Elfa’s Big Band, dan bahkan tampil bersama grup Java Jazz di North Sea Jazz Festival, Den Haag, Belanda yang juga memberi kesempatan untuk menyaksikan berbagai musisi panutannya. Sementara itu, kegiatannya sebagai session player di studio rekaman membuatnya kenal dengan musisi-musisi seperti Thomas Ramdhan dan Ronald Fristianto.

Adalah Parlin “Pay” Burman, gitaris Slank yang juga figur berpengaruh di lingkungan session player, yang mengusulkan agar Budjana, Thomas dan Ronald membentuk band. Budjana menganggap ide ini menarik, namun band yang mereka bentuk dengan seorang vokalis tak kunjung maju karena kesibukan masing-masing. Barulah setelah Thomas dan Ronald bermain dengan gitaris Aria Baron Suprayogi, mereka kembali mengajak Budjana untuk membentuk band karena merasa ciri permainan Baron yang rock dan Budjana yang lebih jazz akan menjadi kombinasi yang pas. Formasi ini dilengkapi dengan Armand Maulana sebagai vokalis, dan di latihan pertamanya, band baru ini sudah sedemikian cocoknya sehingga langsung bisa menciptakan tiga lagu yang siap untuk direkam. Ketika tiba saatnya untuk menentukan nama untuk band itu, Budjana mengusulkan Gigi karena mudah diingat.

Formasi awal Gigi ini menghasilkan dua album (Angan di tahun 1994, lalu Dunia di tahun 1995), dan ketika Baron mengundurkan diri untuk meneruskan sekolah di Amerika Serikat, Gigi memutuskan untuk tetap berjalan dengan Budjana sebagai gitaris tunggal. Dengan perkecualian album religi Mohon Ampun di tahun 2015, Budjana telah terlibat dalam semua rekaman Gigi. Dalam dua dasawarsa eksistensi Gigi di panggung, ada dua hal yang selalu ada: Armand Maulana dengan gayanya yang hiperaktif, serta Dewa Budjana yang berdiri dengan kalem di tempat dan membiarkan jari-jemarinya yang berbicara lewat permainan gitarnya yang melodius, emosional dan cermat.

Di samping menghasilkan 13 album penuh serta sejumlah kompilasi dan koleksi lagu religius bersama Gigi, Budjana juga produktif menciptakan album-album solo yang eklektik dan turut melibatkan musisi-musisi internasional berkaliber tinggi seperti Peter Erskine, Vinnie Colaiuta, Jimmy Johnson, Gary Husband, Antonio Sanchez, Jack DeJohnette, Tony Levin, Chad Wackerman dan Guthrie Govan.

Selain itu, Budjana sedang dalam proses mendirikan Museum Gitarku Dewa Budjana di Bali yang akan berisi koleksi gitar dibubuhi tanda tangan gitaris-gitaris ternama di Indonesia maupun dunia internasional, dan juga gitar-gitar milik Budjana yang dihiasi oleh seniman-seniman terbaik Nusantara. Museum ini juga merupakan simbol dari dua hal yang akan dicintai Budjana seumur hidupnya: Bali dan gitar.

Tapi sesibuk apa pun Budjana, akan selalu ada waktu untuk Gigi karena itulah rumahnya.

quote-2

Nggak pernah menyangka kalau Gigi bisa lama. Dulu waktu pertama kali kami berdiri, orang-orang berkata, ‘Ini orang studio semua, nanti nggak betah bikin band.’ Semua bilang begitu dulu waktu kami pertama kasih demo. Tapi kenapa betah? Band itu kayak rumah, menurut gue. Ketika kita ketemu teman atau pemain yang tepat – bukan hanya dalam bermusik, harusnya dalam keseharian – buat apa lagi cari band yang lain? Mungkin seperti kayak kita di rumah, sudah ketemu keluarga yang tepat, nggak perlu lagi cari rumah lain. Makanya sampai sekarang, gue sudah melihat setiap orang yang nggak betah, bikin band baru. Gue lihat nggak pernah ada yang jadi.
Memang tetap rumahnya harus satu.

quote-1