quote-2

Dulu cita-cita ingin punya band. Gue ketemu Budjana dan Ronald, terus bertiga bikin. Orang-orangnya memang menganggap band itu hal yang serius, bukan main-main. Bukan hobi doang, hari ini ngeband, 1-2 tahun sudah pindah arahnya. Nah, orang-orang ini bukan seperti itu. Benar-benar konsisten bahwa band itu buat mewujudkan impian di situ. Gue bergabung sama orang-orang yang benar-benar konsisten di dunianya.

quote-1

Thomas Ramdhan lahir di Bandung, 5 Maret 1967 sebagai anak bungsu dari sembilan bersaudara. Saat menerima rapor SD, ia baru tahu bahwa yang selama ini mengasuhnya bukan orang tua kandung, melainkan kakak pertama dan suaminya. Thomas mengenal musik dari pasangan ini, yang bermain di band secara rutin sambil jualan keripik untuk menopang hidup. Saat kelas 4 SD di Majalaya, kota tempat tinggal orang tua kandungnya, Thomas sudah sering bergaul dengan anak-anak SMA, dan saat baru belajar bermain gitar sudah bisa memainkan lagu-lagu Deep Purple dan The Rolling Stones. Ketika sedang ada di Bandung, tiap minggu Thomas menyempatkan diri menonton band-band yang tampil di GOR Saparua, seperti Cockpit dari Jakarta yang membawakan lagu-lagu Genesis. Sebelum tidur, setelah bangun dan bahkan di saat membuang hajat di kamar mandi, Thomas mengkhayal bermain musik di panggung seperti band-band yang ditonton dan diidolakannya.

Obsesi Thomas dengan musik berlanjut saat masuk SMP, di mana waktu studinya mulai tersita karena lebih tertarik dengan aktivitas di band yang memainkan lagu-lagu Queen dan The Police. Ketika masuk SMA di Bandung, Thomas sampai berhenti sekolah karena bermain dengan band bisa membawanya sampai ke Bali. Ketika memutuskan untuk mulai SMA lagi di Majalaya, Thomas sudah ikut band pengiring tetap di sebuah kafe di Bandung. Alhasil, setelah bermain di Bandung tiap akhir pekan, subuh sudah berangkat untuk sekolah di Majalaya. Sebesar dedikasi Thomas terhadap bermusik, sampai gagal ikut ujian masuk perguruan tinggi negeri karena bentrok dengan jadwal main.

Selepas SMA, Thomas akhirnya punya bas sendiri yang dibeli dengan uang pemberian ibunya untuk biaya kuliah. Ia tertarik dengan instrumen itu karena suka dengan lagu “Jump” oleh Van Halen, sehingga penasaran untuk mendalaminya. Ternyata Thomas cocok dengan instrumen itu, dan usai SMA ia sudah bermain bas di sekitar Bandung bersama dua band berbeda. Lewat pergaulan di kancah musik Bandung, Thomas menjadi akrab dengan seorang gitaris bernama Aria Baron Suprayogi. Dalam suatu acara klinik gitar di mana Baron menjadi panitia, Thomas berkenalan dengan Parlin “Pay” Burman, gitaris Slank yang datang ke acara itu dari Jakarta bersama beberapa musisi lain, termasuk drummer Ronald Fristianto.

Adalah Pay yang membujuk Thomas untuk pindah ke Jakarta demi karier bermusiknya, dan Thomas menjadi dekat dengan Ronald karena sering tidur di rumahnya maupun di rumah Pay. Dari Pay pula, Thomas mendapat banyak pekerjaan sebagai session player – seringkali bersama Ronald – untuk artis-artis seperti Paramitha Rusady, Memes, Trio Libels, Anang, Oppie, Sophia Latjuba, Atiek CB dan Anggun C. Sasmi. Dari dunia session player, Thomas jadi kenal dengan gitaris Dewa Budjana. Lagi-lagi, atas usul Pay, Thomas tergerak untuk membentuk band bersama Ronald dan Budjana. Setelah inkarnasi awal band mereka dengan seorang vokalis kandas karena kesibukan masing-masing, Thomas dan Ronald terdorong untuk mencoba lagi setelah berlatih dengan Baron, lalu mereka mengajak kembali Budjana, dan akhirnya Armand Maulana diajak sebagai vokalis untuk melengkapi apa yang menjadi formasi pertama Gigi yang resmi berdiri pada 22 Maret 1994.

Sejak Gigi muncul ke permukaan industri musik Indonesia lewat album Angan di tahun 1994, Thomas menarik perhatian lewat aksi panggungnya yang atraktif dan rambutnya yang diwarnai merah, dan namanya semakin berkibar ketika Gigi semakin sukses lewat album Dunia di tahun 1995. Selain menyumbang musik, Thomas juga terlibat dalam penulisan lirik, terutama setelah Baron mengundurkan diri setelah Dunia beredar.

Sayangnya, kecanduan narkotika yang menjerat Thomas membuat Gigi ikut dipersulit, dan akhirnya ia mengundurkan diri pada 18 Mei 1996 tak lama setelah menyelesaikan tur promosi untuk album ketiga ¾. Sementara Thomas sibuk dengan proses rehabilitasi, Gigi tetap berjalan dengan Opet Alatas, mantan teknisi bas Thomas yang menggantikannya di band, dan Budhy Haryono, yang mengisi posisi drummer saat Ronald ikut mengundurkan diri tak lama setelah Thomas.

Setelah formasi ini melepas album 4×4 dan Kilas Balik, Opet pun memutuskan untuk mengundurkan diri, dengan syarat Thomas – yang ketika itu sudah sembuh dari ketergantungannya – masuk kembali ke Gigi. Usai dari rehab, Thomas rajin menonton band-band di Bandung yang membuatnya bersemangat untuk bermain kembali. Ia sempat bermain dengan Time Bomb Blues, lalu diajak mengisi posisi bassist di Ahmad Band, proyek sampingan Ahmad Dhani dari Dewa 19. Maka ketika muncul tawaran untuk bergabung kembali dengan Gigi, Thomas langsung mengiyakan. Alhasil, sejak album Baik di tahun 1999, Thomas masih menjadi anggota Gigi hingga detik ini dan membentuk rhythm section yang disegani bersama Gusti Hendy, yang menggantikan Budhy Haryono di tahun 2004.

Selain di Gigi, Thomas juga pernah menjadi bassist dan produser di proyek Solitaire Addict bersama Bounty Ramdhan, putra sulungnya yang semakin dikenal sebagai drummer andalan. Thomas juga telah melepas sejumlah single dan EP di bawah namanya sendiri sebagai penyaluran ketertarikannya terhadap musik elektronik.

quote-2

Gigi adalah hasil kerja keras, dan itu salah satu hal yang gue pertahankan. Kalau diibaratkan gedung, itu adalah rumah. Selama gue ada energi buat Gigi, dan gue lihat teman-teman gue masih ada energi buat Gigi, ya jalan, lah. Tujuannya memang untuk main musik, untuk bareng. Masih bisa berkarya, masih bisa ada waktu untuk membahas yang kurang baik agar menjadi baik. Itu berarti masih ada energi buat gue.

quote-1